PAMSIMAS (PENYEDIAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT)

Saat ini penyakit infeksi berbasis lingkungan seperti diare, DHF cenderung menetap angka kejadiannya. Tidak ada suatu trend penurunan maupun peningkatan cenderung stagnan. Hal ini justru menjadi kekawatiran kita semua karena upaya program pembangunan yang telah dilaksanakan tidak memberi hasil yang diharapkan bagi perbaikan sanitasi secara total. Karena hal tersebut dilakukan suatu inovasi baru pengelolaan sanitasi melalui program Pamsimas. Pamsimas ini dilakukan dengan metode penyelesaian komponen B demikian orang menyebutnya Continue reading

Food Security KIT

Kemajuan suatu wilayah dibarengi dengan peningkatan jumlah konsumsi pangan. Arus barang pangan melonjak tajam baik dari lokal maupun luar daerah bahkan diantara dari luar negeri tanpa diketahui keamanan bagi kesehatan perorangan. Ingat kasus Oreo yang mengandung bahan melanin cukup menghebohkan. Dan untuk mengantisipati kejadian itu terulang maka Dinkes HSS berupa menghadirkan suatu alat yang dapat mendeteksi kandungan makanan secara cepat dan akurat. Continue reading

Kerupuk Bamban

Di desa Bamban Utara tepatnya di mana Puskesmas Bamban berdiri terdapat home industi yaitu produksi kerupuk yang diolah dari ubi kayu (singkong). Orang Kandangan menyebutnya sebagai kerupuk bamban. Produksi kerupuk ini sudah berlangsung puluhan tahun dan sudah berbagai macam kerupuk telah dihasilkan: kerupuk pedas, kerupuk rasa, kerupuk bawang, kerupuk opak, kerupuk biasa (bundar dengan bagian pinggir berwarna merah), serta kerupuk warna-warni (merah, hijau dan kuning)/ kerupuk gado-gado.
Produk kerupuk ini dapat kita lihat sepanjang jalan desa Bamban Utara, baik saat di keringkan dengan dijemur dibawah terik matahari ataupun dipajang di kios-kios untuk dijual pada pengguna jalan raya Banjarmasin-Samarinda, Banjarmasin-Buntok atau sebaliknya. Produk kerupuk ini sudah menyebar ke beberapa propinsi tetangga, Kaltim, Kalteng bahkan juga ke Ujung Pandang.
Home Industri ini sudah mendapat pembinaan dan bantuan dari beberapa instansi pemerintah, namun sampai sekarang yang jadi kendala adalah produski kerupuk bamban ini adalah penggunaan zat pewarna. Zat pewarna yang digunakan bukan zat pewarna yang dipakai dalam industri makanan tapi berasal industri pakaian yaitu Rodamen B (demikian hasil pemeriksaan BPOM Banjarmasin). Sudah berbagai upaya pembinaan, penyuluhan dan bahkan bantuan berupa zat pewarna yang makan dalam produk makanan tapi hasilnya tetap nihil. Meraka tetap memakai zat pewarna tersebut dengan berbagai alasan :
1. Harga terjangkau dan mudah didapat
2. Hasil pewarnaan lebih cerah sehingga lebih menarik penampilannya.
3. Bahaya pewarna tersebut tidak terlalu mereka khawatirkan
4. Adanya pembanding dari produksi hasil pertanian yang menggunakan obat pertisida, insektisida dan lain-lain yang mereka anggap lebih berbahaya dibanding zat pewarna yang mereka gunakan.
Apapun upaya pembinaan yang mau dilakukan pihak puskesmas sekarang selalu di curigai macam-macam, dikira untuk menghambat usaha mereka. Sampai-sampai untuk mengambil sampel saja sulit. Terpaksa petugas di Puskesmas dan BPOM berpura-pura sebagai pembeli. Adapun harapan dari petugas sekarang hanya satu yaitu : adanya tindakan tegas dari aparat berwenang untuk menyelesaikan masalah zat pewarna pada kerupuk

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.