Tuberculosis Paru dan Tuberculosis Anak.

Tuberulosis (TBC) adalah suatu penyakit infeksi yang menular, disebabkan oleh suatu kuman basil tahan asam (BTA): Mikobacterium tuberculosis. Penyakit ini ditularkan melalui percikan dahak penderita TBC pada orang sekitarnya. Gejala umum TB pada orang dewasa adalah batuk terus-menerus selama tiga minggu, berdahak dan sering pula disertai bercak darah pada dahak penderita. Gejala tambahan lainnya berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan merosot drastis.
Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) penyakit ini merupakan penyebab kematian no 3 setelah penyakit kardiovaskular, dan penyakit pernafasan pada semua kelompok umur. Sehingga pada tahun 1995 di mulailah cara pengobatan sistem baru yakni dengan sistem DOTS.
Upaya pengobatan TBC sebenarnya sudah dilaksanakan sejak jaman penjajahan namun hasil pengobatan masih tidak maksimal. Maka sejak tahun 1995 dicoba suatu metode baru pengobatan TBC dengan Strategi DOTS (Directly Observe Treatment Shortcourse = pengobatan jangka pendek dengan pengawasan) diperkenalkan di Indonesia dan telah diimplementasikan secara meluas dalam system pelayanan kesehatan masyarakat
Penemuan kasus TBC di Indonesia (CDR=Case Detection Rate ) pada tahun 2005 adalah 68%, telah mendekati target global untuk penemuan kasus pada tahun 2005 sebesar 70% dan target 2007 menjadi 74%. Sedangkan angka keberhasilan pengobatan (Success Rate = SR) mencapai 89,7% melebihi target WHO sebesar 85%.
Situasi TBC di Indonesia dan kemajuannya :
Jumlah kasus TBC yang ditemukan meningkat secara nyata dalam beberapa tahun terakhir. Angka penemuan kasus BTA positif baru meningkat dari 38% di tahun 2003 menjadi 54% di tahun 2004 sebagai hasil ekspansi DOTS yang dipercepat dengan dukungan donor internasional yang meningkat seperti (GF ATM, USAID (TBCTA), CIDA, DFID dan lain-lain dan bantuan teknis dari para mitra Stop TBC khususnya WHO dan KNCV.
Kemajuan nyata dicapai dalam menurunkan prevalensi TBC di Indonesia. Wilayah Jawa-Bali telah menunjukkan penurunan angka prevalensi setengahnya, sedangkan untuk wilayah-wilayah yang sulit terjangkau juga menunjukkan penurunan yang signifikan meskipun kemajuannya lebih lambat.
Dampak epidemiologi menunjukkan trend penurunan insidens TBC di masyarakat yaitu 128/100.000 penduduk pada tahun 1999 menjadi 107/100.000 penduduk pada tahun 2005. Namun demikian berdasarkan survey pravalensi Nasional TBC oleh Badan Litbangkes tahun 2004, menunjukkan sebaran insidens TBC per 100.000 penduduk yang variatif dalam 4 regional, yakni Yogya/Bali (64/100.000 penduduk), Jawa (107/100.000 penduduk), Sumatera (160/100.000 penduduk) dan KTI (210/100.000 penduduk)
Kabupaten Hulu Sungai Selatan di Kalimantan Selatan merupakan bagian dari Kawasan Timur Indonesia dan pada Puskesmas Bamban pada akhir tahun 2008 tercatat ada 10 penderita BTA baru di antara 6.000 penduduk di wilayah Puskesmas Bamban. Sedangkan kalau dilihat dari tingkat penularan ternyata masih tinggi yakni ditemukan angka kesakitan TB pada anak sebanyak 10 kasus.
Ada beberapa factor yang utama yang menghambat upaya penanggulangan TB di Kalsel khusus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
1. Lingkungan
Lingkungan perumahan di wilayah kerja Puskesmas masih banyak yang belum memenuhi syarat rumah sehat
2. Sosial Ekonomi
Secara ekonomi penyebab utama berkembangnya kuman-kuman tuberculosis adalah karena masih rendah tingkat pendapatan perkepala, kurang terpeliharanya gizi dan nutrisi serta hal-hal lain yang menyangkut kebersihan/sanitasi lingkungan rumah . Kemiskinan dan jauhnya jangkauan pelayanan kesehatan dapat menyebabkan pendearita tidak mampu membiayai angkutan ke Puskesmas. Kebutuhan pokok lebih utama dibandingkan pemeliharaan kesehatan.
3. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi kemampuan untuk menerima informasi tentang penyakit TB Paru, yang meliputi etiologi penyakit, cara penularan, gejala klinis, pengobatan dan efek samping pengobatan, kegagalan pengobatan atau resistensi obat dan komplikasi penyakit selanjutnya. Sehingga penderita dengan tingkat pendidikan rendah tidak mengetahui bahwa waktu pengobatan belum selesai atau penyakitnya belum sembuh dan kurang mengerti akan penyakit yang dideritanya serta bahayanya bila tidak diobati secara tuntas.
4. Perilaku
Perilaku berkaitan dengan tespon penderita terhadap stimulus yang berkaitan sakit dan penyakit, pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Perilaku sakit dab penyakit ini sesuai dengan tingkat –tingkat pencegahan penyakit, yakni :
a. Perilaku sehuibungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan misalnya makan makanan yang bergizi, olah raga, jaga kebersihan diri, istirahat cukup dan sebagainya,
b. Perilaku pencegahan penyakit misalnya: imunisasi, menutup mulut bila batuk, membuang ludah pada tempatnya, menjemur peralatan tidur, tidur terpisah dengan penderita TBC Paru;
c. Perilaku berhubungan dengan pencarian pengobatan misalnya : upaya untuk mengoabati sendiri, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan modern maupun tradisional;
d. Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan, misalnya kepatuhan minum obat.
Kepatuhan berobat adalah salah satu faktor utama keberhasilan pengobatan TB Paru yang terdiri atas kepatuhan untuk mengambil obat, meminum obat sesuai aturan dan memeriksakan sputum pada akhir pase intensif dan akhir pengobatan setelah 6 bulan.
5. Pelayanan Kesehatan
Upaya pelayanan pengobatan penderita TB Paru dengan strategi DOTS baru dilaksanakan di tingkat Puskesmas sedangkan di Rumah Sakit dan Praktek dokter swasta belum menggunakan DOTS. Keterbatasan tenaga dan sarana laboratorium sehingga angka kesalahan baca hasil slide sputum masih diatas 5 %.
Upaya penyuluhan tentang penyakit TB Paru sangat penting di laksanakan pada saat pendertita memulai pengobatan dengan OAT karena apabila penderita mengetahui tentang efek samping obat OAT berupa mual, muntah diare, sakit kepala, gangguan pendernaan, nyeri pada bekas suntikan, penderita tidak akan menghentikan pengobatannya dan akan dating berkonsultasi ke dokter yang merawatnya.
6. Komitmen
Program penanggulangan TB Paru akan berhasil apabila pemerintah dan masyarakat mempunyai perhatian yang sama dalam upaya penanggulangan TB Paru. Dan dukungan stakeholder hingga saat ini masih kurang , demikian pula dukungan lintas program dan limtas sektoral yang tergabung dalam Gerdunas TB masih belum optimal..

4 Tanggapan

  1. Sayang sekali, penderita diabetes yang berobat di puskesmas kami sedikit, kebanyakan mereka ke puskesmas hanya untuk mencari rujukan untuk ke Rs

  2. maaf agak menyimpang, mau nanya di puskes bamban pasien diabetes nya banyak atau ga???

  3. Bagi penderita TB yang penting patuh untuk makan obat, oke …!

  4. Saya juga dulu pernah berobat rutin pada umur 12 tahun. Alhamdulillah sekarang sudah semmbuh. Lingkungan yang sehat memang perlu digalakkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: