Situasi TBC Anak di Puskesmas Bamban

Akhir bulan Desember 2008 dilaporkan petugas TB bahwa angka kesakitan tbc ada  12 tbc dewasa dan 10 anak  di wilayah Puskesmas Bamban dan seluruhnya  telah mendapat terapi Program TB. Angka kesakitan tb anak yang demikian tinggi ini harus mendapatkan perhatian yang serius dari semua pihak. Karena tingginya angka kesakitan pada anak  menunjukkan gambaran umum amat / tingginya !  tingkat penularan penyakit  tuberkulosis yang terjadi di masyarakat. Artinya adalah masih banyak penderita tuberkulosis aktip yang belum terdeteksi dan belum mendapat terapi OAT (Obat Anti tuberkulosa). Hal ini tentu menjadi masalah kesehatan yang memprihatinkan.

Diagnosa penyakit tuberkolusis pada anak tidak bisa  ditegakkan di dasarkan adanya keluhan batuk lama/ berulang, sering panas lama, berkeringat malam dan berat badan tidak bertambah. Namun kalau tetap hanya berdasarkan pada keluhan tersebut, hal ini jelas tidak  relevan, tapi harus ada memeriksaan spesifik yang dapat benar-benar bisa mendeteksi keberadaan kuman TB dalam tubuh penderita/anak, misal pemeriksaan tuberkulin. (Sayang untuk pemeriksaan tuberkulin di Puskesmas tidak tersedia).  Lalu dengan pemeriksan sputum ini sulit dilakukan karena sputumnya kadang tidak ada. Hal yang mungkin dilaksanakan di puskesmas adalah melakukan pemeriksaan pembesaran kelenjar leher (skrufoluderma) dan laboratorium LED (laju endap darah).

Standar operasional  yang dilakukan puskesmas dalam menangani suspeks  penderita TB Anak adalah dengan konsul penderita ke dokter anak di rumah sakit untuk konfirmasi penyakit anak lalu menunggu advis terapi lanjutan saja, setelah ada penegakan diagnosis dari dokter anak untuk melanjutkan program TB anak  baru kami lakukan pemberian OAT anak. Selain itu juga kami berpedoman pada penemuan kasus pembengkakan kelenjar leher anak (penjaringan disekolah) disertai riwayat kontak dengan penderita TB dewasa aktif, maka terapi bisa dilakukan. Melalui kedua metode itu setiap tahunnya dapat terjaring 2-3 penderita tb anak yang diterapi.

Pada bulan Oktober 2008 kami sangat beruntung, karena tim Survey Tuberkulin dari Universitas Indonesia melaksanakan test tuberkulin pada dua sekolah diwilayah kerja Puskesmas yakni SDN Bamban Selatan dan Kayu Abang II. Jumlah sampelnya masing-masing sekolah yakni 92 dan 61 murid. Pemeriksaan dilakukan dalam 2 tahap

  • Hari I : injeksikan 0,2 ml tuberkulin ke lengan murid dan
  • Hari III; pemeriksaan hasil indurasi dilengan murid yang telah mendapat injeksi tuberkulin

Tabel hasil pemeriksaan tuberkulin

No Nama Sekolah Murid Positif % Indurasi(MM)
1 SDN Bamban Selatan 92 24 25,8 10-20
2 SDN Kayu Abang II 61 29 47,5 10-19

Seandainya mereka yang positif  didiagnosa sebagai penderita TB anak maka ternyata ada sekitar 47,5% murid SDN Kayu Abang II dan 25,8% murid SDN Bamban Selatan. Ini  adalah suatu angka yang fantastis bagi tingkat penularan penyakit tuberkulosis.

Setelah mendapatkan hasil dari tim survey tuberkulin tersebut, maka ditindaklanjuti hasil tersebut untuk menentukan diagnosa tuberkulosa anak dengan berpatokan pada sistem skoring sebagai standar diagnosa dari WHO seperti tabel berikut ini.

No Keluhan Ada Tidak Skore
1 Riwayat Kontak  (dgn orang dewasa) + 3
2 Batuk Lama/berulang +/- 1
3 Sering Panas +/- 1
4 Berkeringat Malam hari +/- 1
5 Gizi Kurang +/- 1
6 Pembesaran Kalenjar +/- 1
7 Konjungtivitis flitenularis +/- 1
8 Skrofuloderma +/- 1
9 Kelainan Organ Lain (kompl. TB) +/- 3
10 Test tuberkulin + 5
    +/- 3
11 Test BCG + 3
12 L E D + 1
13 Foto torak milier/bronkogen + 5
  pembesan kelenjar kalsifikasi 3
14 B T A + 10

TBC dianggap positif bila skor > 10,  postif ringan 5 – 9 dan negatif bila skor antara 1 s/d 4. Atas dasar sistem skoring ditemukan angka penderita sebanyak 10 orang TB Anak.

Besar harapan kami di puskesmas dengan hasil penelitian ini adalah tersedianya sarana  pemeriksaan test tuberkulin sehingga berguna membantu kami dalam menegakkan diagnosa TBC anak.

3 Tanggapan

  1. Mudah-mudahan kedepan berkurang ya pak…😆

  2. Mudahan kedepannya.. penyakit ini berkurang dan jauh2 saja dari bangsa Indonesia..

  3. Wah ngeri juga nih hasil penelitiannya. Pencegahannya gimana dok? Agar anak atau bayi kita terhindar dari penyakit tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: