Obat Puyer, Ada Apa?

Dalam dua hari ini, tak sengaja aku menyaksikan berita polemik puyer di Seputar Indonesia. Dan lebih menarik lagi sampai-sampai RCTI menghadirkan seorang narasumber yang tak asing lagi bagi saya pribadi yakni Ketua Umum Pusat Ikatan Dokter Indonesia, dr. Fahmi Ideris, untuk klarifikasi obat puyer.  Reportase belakangan ini mempermasalahan tentang keamanan obat puyer yang diresepkan oleh seorang dokter, lalu ditampilkanlah suatu cuplikan proses pemberian puyer (mungkin diambil dengan kamera tersembunyi). Seorang dokter wanita pemeriksa yang dalam hal ini ketika berhadapan dengan orang tua yang membawa anak untuk berobat langsung ditanyakan mau sirop atau puyer.  Selain itu ditampilkan pula proses pembuatan dan pengemasan obat puyer sehingga timbullah pertanyaan atau permasalahan seputar puyer bukan seputar Indonesia lagi.

Terus terang saja apa yang disampaikan oleh Bapak dr Fahmi Ideris saya sangat mendukung tentang kemungkinan pasien itu memang pasien lama bukan baru dan alasan rasional puyer diberikan juga berdasarkan struktur ekonomi  bangsa kita yang masih lemah. Hal lainnya yang disampaikan beliau, bahwa  ilmu peracikan obat masih di ajarkan di fakultas  adalah benar adanya.

Kami di Puskesmas Bamban sampai detik ini masih tetap menggunakan obat puyer terutama untuk pasien anak. Karena bentuk puyer ini adalah bentuk sedian obat yang paling sesuai dengan kondisi anak selain obat sirop. Dalam meresepkan obat puyer kami mengacu pada  dosis obat  perberat badan dan berdasarkan variasi keluhan pasien anak yang perlu beberapa obat simptomatik yang berbeda. Istilahnya bentuk puyer adalah proses pensederhanaan proses pemberian obat dari pemberian satu-persatu sedian obat yang bisa diberikan  separo, sepertiga, seperempat dan sebagainya yang jelas akan sangat merepotkan orang tua pasien  anak  yang biasanya sulit untuk minum obat. Singkatnya dengan obat puyer kita dapat memberikan terapi dalam sekaligus satu kali minum obat.

Terakhir timbul pertanyaan mengapa kita tidak menggunakan opsi kedua yaitu obat sirup. Untuk obat sirop di tingkat pelayanan puskesmas yang tersedia adalah paracetamol sirop, obh, dektrometorphan, antibiotik dan multivitamin. Dan  penggunaan obat sirup pada semua pasien anak jelas tidak mungkin karena  jumlahnya terbatas dan  tergolong mahal. Apalagi bila kita menggunakan obat sirup brand terkenal tentu cukup mencekik leher keluarga penderita. Kesimpulan kita petik dari polemik puyer adalah masih lemah struktur ekonomi bangsa kita saat ini menyebabkan pemberian obat bentuk puyer akan terus berlangsung.

10 Tanggapan

  1. sorotan obat puyer harus ditanggapi dengan bijak, soale hal ini telah besar2an di angkat media tv, namun selama solusi terbaik belum di putuskan, tentunya protap terbaik dari standar kerja apotek sudah dilaksanakan oleh petugas, ul yakin itu. ya kalo pak dokter??!! dan masy pun masih merasakan manfaat besarnya koq.

  2. boleh ae klo umpat bkomentar nah hehehe,,,

    pemberian obat puyer sebenarnya sangat membantu dalam memudahkan orang tua untuk memberikan obat pada anaknya.
    saya mau menanggapi pertanyaan mbak dinda 27,,,
    dpuskesmas saya untuk kebersihan alat untuk memuyer obat sangat diperhatikan mba, soalnya setiap anak kan beda2 sakit dan resep obatnya. dan untuk memuyer sendiri selalu ditangani oleh asisten apoteker langsung yang memang besik pendidikannya d masalah obat2an ato orang yg memang berkompeten dibidang kesehatan. coz kita nggak mau dong anaknya malah tidak sembuh gara2 ketidakhati2an kita terhadap peracikan obat??? !!!!

    buat pa dr.murid salam kenal ya,,dari puskesmas kabupaten tetangga!!!

  3. Puyer..saya setuju dengan puyer..
    murah dan semua obat bisa masuk disitu..
    sugesti masyarakat pun sdh bagus ttg puyer..

    stasiun televisi itu mungkin agak merendahkan profesi kedokteran..
    sehingga bbrp kali tayangan ttg puyer di tayangkan..

    slm kenal..

  4. asal pasien & masyarakat “maklum” dgn proses pembuatannya tersebut..dlm kondisi kita sekarang..🙂

  5. Salam kenal juga. Insya Allah kebersihan obat racik terjamin, yang jelas kita tak mau karena kecerobohan kita eh pasien malah sakit penyakit lain. terima atas juga dengan doanya. amien

  6. Ketika anak2 sakit dan ke dokter, sy berusaha meminta obat racik.
    Ketika beralih ke perusahaan besar yg menjamin pengobatan keluarga, obar racik mulai sulit di berikan.

    Sy dukung obat racik, ya berkhasiat karena yang dibutuhkan pasien teramu dalam satu ‘paket’, praktis dan jauh lebih murah.

    Maaf kalau pertanyaan berikut ini tidak berkait.
    Sederhana saja
    Apakah kebersihannya terjamin saat diracik oleh si peracik. Dari serpihan obat yg tercecer, kebersihan tangan dll.

    Salam kenal.

  7. belum tahu lagi

  8. Gimana Menkes?

  9. Bingung jd y pa…tp inilah kalau negara berkembang selalu ketinggalan…terutama dlm hal kesehatan

  10. Semoga pemerintah bs mencari solusi yg lbh baik ttg polemik puyer ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: