Pelatihan Deteksi Dini Tumbuh Kembang

Dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan terkhusus untuk pengembangan  pelayanan di posyandu dilaksanakan satu pelatihan bagi dokter puskesmas dan perawat.  Pelatihan yang dimaksud adalah pelatihan Deteksi Dini Tumbuh Kembang  (DDTK) bagi bayi dan balita yakni dari usia 0 tahun hingga usia 6 tahun. Waktu pelatihan yang seharusnya ditempuh selama 3 hari diringkas menjadi 3 jam bagaimana hasilnya semua belum tahu. Namun penekanan dalam pelaksanaaan pelatihan DDTK adalah meningkatkan cakupan pelayanan DDTK itu sendiri seperti yang disampaikan narasumber kabupaten yaitu dr. Rustina Idawarti dan dengan diikutkannya dokter puskesmas diharapkan adalah untuk kometmen pengawasan pelaksanaan di unit kerja masing-masing. Semua itu dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan di DDTK baik di Posyandu, Puskesmas maupun disekolah TK.

Pelatihan DDTK di awali dengan pengantar dari Plt Kabid. Kesga Moch. Adib, SKM M.Kes yang menyatakan bahwa bahwa anak balita adalah generasi penerus yang mendapat perhatian serius dalam pertumbuhan dan perkembangannya agar dapat bersaing dimasa akan datang dan dilanjutkan pembukaan oleh Sekretariat Dinkes  HSS. Bapak Drs Syaiful Rasdi yang mewakili Kadinkes HSS yang tidak menghadiri pelatihan ini karena sedang mendampingi Bapak Bupati HSS yang sedang mengekspos RPJMD Kabupaten HSS sebagai kota Agropolitan. Setelah pembukaan acara dibreaking selama 15 menit untuk mencicipi snack yang telah disediakan oleh panitia.

Materi di awali dengan paparan tentang program DDTK yang menyatakan bahwa program ini sebenarnya adalah program lama. Dan mohon maaf sebenarnya ini tulisan lama namun baru ditayangakan sekarang.

Pola Pelayanan Pasien HIV di Puskesmas

Tulisan ini, bukan tidak mungkin akan terjadi di puskesmas-puskesmas dimasa mendatang, mengingat insiden HIV telah meningkat di Indonesia. Dan dari wawancara sekilas ternyata telah ditemukan 1 kasus HIV positif didaerah kita. Setelah diusut ternyata kasus ini memang didapatkan dari luar daerah (dia seorang perantau lama). Yang menjadi masalah setelah ini adalah bagaimana kasus ini yang tampak dipermukaan sementara kasus lainnya masih tersembunyi (ingat penomena gunung es).
Pernah saya dengar di sebuah rumah sakit di kota yang cukup besar, merawat kasus dengan diagnosa yang masih misterius dan setelah meninggal baru diketahui menderita HIV. Jelas hal memberi dampak fisiologis besar pada seluruh individu yang terlibat merawat si pasien ini dan resiko tertular HIV sangat besar karena ketidak cukupan pelindung diri saat merawat pasien ini.
Lalu bagaimana tentang pelayanan pasien ini di puskesmas? wallahu alam, karena prasana dan fasilitas perawatan dan diagnostik sangat minim. Hal yang mungkin dilakukan hanyalah berupa peningkatan proteksi diri terhadap pasien yang di curigai kasus HIV dengan kondisi mirip pasien TBC yang kakeksia (kurus) dengan keluhan nyeri perut, diare, pembesarab kalenjar getah bening, demam, nyeri otot atau sendi, ruam kulit penurunan berat badan dan lain lain.
Sedangkan pola pengembangan diagnostik bagi pasien ini alat diagnostik dengan tiga strip sensitif, spesifik, spesifik (100%, 99%, 99% masing-masing), dan dengan metode ini diharapkan dapat mengkover pasien -pasien yang terindikasi mengidap HIV. Juga ada yang menggunakan metode ELISA. Pemeriksaan ini belum bisa mengkonfirmasi HIV untuk itu perlu dilanjutkan dengan metode Western blot.

TINGGINYA INSIDENSI HIPERTENSI DI HSS

Setelah hampir 6 bulan sudah saya telah berpisah dengan Puskesmas Bamban dan waktu berjalan ini bukan sebentar. Keinginan untuk menulis di blog ini masih tersisa dalam angan ku, namun karena kesibukan studi yang ku jalani tak memungkinkan saya untuk meluangkan waktu untuk itu, saya mohon maaf. Dan dalam kesesmpatan singkat ini saya mengucapkan selamat bertemu kembali untuk rekan blogger dan pembaca semua.
Saat meninggalkan puskesmas bamban dulu sebenarnya ada pr saya yang belum saya garap hingga sekarang yakni masalah tingginya kejadian penyakit hipertensi di hulu sungai selatan berdasarkan data depkes tahun 2008. Data lengkapnya sebenarnya ada namun sudah lupa dimana menyimpannya. Kita tentu bertanya mengapa hal itu terjadi, saat itu jujur saya juga tidak mengerti. Saya baru sadar setelah menjalani studi di luar kalimantan, bahwa salah satu faktor resiko kejadian hipertensi itu ternyata berasal dari diet tinggi lemak. Selain itu yang lebih parah lagi untuk daerah kita tercinta ini bahwa budaya pola makan tinggi lemak lemtra tak berlangsung sejak bayi. Masih juga tidak percaya coba kita tenguk ke dapur, tentu saja kita tidak akan menyangkal bah wa sayur mayur itu pasti dengan kuah santan (sari air daging kelapa) dan macam-macam jenis makanan/kue tradisional di kandangan itu dominan berbahan kelapa.
Maka dengan diet tinggi lemak setiap saat akan meningkatkan resiko kejadian hipertensi (batas normal konsumsi lemak yaitu sebutir telur = 300 mg/hari). Karena itu kita semua harus menurunkan batas maksimal komsumsi lemak dalam rangka menurunkan resiko kejadian hipertensi dengan segala penyulit lainnya di samping itu tentu saja dengan meningkatkan porsi aktivitas seperti olah raga.
Harapan saya hanya satu dalam kasus ini yakni mencegah kejadian hipertensi dengan merubah pola makan yang jelek dengan menggantinya pola makan yang sehat.

Penyakit Cacar Air

Saat ini kita memasuki musim kemarau yang ditandai dengan peningkatan suhu lingkungan dan hujan sudah sangat jarang. Walaupun hujan juga paling sebentar sekitar 15 menit sehingga tidak mampu memberi pengairan bagi sawah dan kebun. Para petani dan pekebun harus ekstra kerja keras dibanding dimusim penghujan. Air mulai sulit diperoleh, sumur gali telah surut bahkan berapa diantara kering. Kesulitan air selain menimbulkan masalah bagi para petani ternyata juga menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat Baca lebih lanjut

PAMSIMAS (PENYEDIAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT)

Saat ini penyakit infeksi berbasis lingkungan seperti diare, DHF cenderung menetap angka kejadiannya. Tidak ada suatu trend penurunan maupun peningkatan cenderung stagnan. Hal ini justru menjadi kekawatiran kita semua karena upaya program pembangunan yang telah dilaksanakan tidak memberi hasil yang diharapkan bagi perbaikan sanitasi secara total. Karena hal tersebut dilakukan suatu inovasi baru pengelolaan sanitasi melalui program Pamsimas. Pamsimas ini dilakukan dengan metode penyelesaian komponen B demikian orang menyebutnya Baca lebih lanjut

24 Maret Hari TB Sedunia

Dalam sebuah memorial tanggal 24 Maret 1982 merupakan tonggak sejarah penemuan kuman penyebab TBC oleh Robert Koch. WHO menetapkan tanggal 24 Maret sebagai hari TB mengingat sejak saat itu kita telah memasuki era baru dalam diagnosa dan pengobatan penyakit TBC seperti rilis dari Depkes RI baru-baru ini. Kuman penyebab tuberkulosis ini di kenal dengan nama Mycobakterium Tuberkulosis yang dominan  menyerang organ paru , tetapi juga mengenai organ tubuh lainnya.

Mycobacterium Tuberkulosis. Kuman ini berbentuk batang , mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, sehingga di kenal sebagai kuman Basil  Tahan Asam  (BTA). Kuman ini tidak dapat bertahan lama dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab, misal rumah dengan ventilasi dan sinar matahari yang kurang . Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun (Depkes RI 2002). Baca lebih lanjut

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Puskesmas Bamban

Beberapa hari lagi kita akan berpisah dengan salah bulan suci yakni Bulan Rabiul Awal. Rekan-rekan di Puskesmas Bamban sedikit resah dengan situasi disini terasa ada yang kurang / hampa kata mereka. Ternyata mereka berkeinginan mengadakan peringatan  maulidirrasul secara sederhana. dengan tujuan  adanya  satu suasana baru apabila mengadakan peringatan maulid tersebut. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.